Sisi Lain Kampus Kita

A. Dimensi Pondasi Kampus

Secara khusus kampus terdapat tiga dimensi saling berkaitan. Pertama; kampus secara fisik seperti gedung, perpustakaan. Kedua; kampus sebagai transfer keilmuan melalui Dosen, petugas admintrasi dan ketiga kampus sebagai objek proses keilmuan itu sendiri seperti mahasiswa dan mahasiswi.

Realitas yang harus dikatakan saat ini adalah kampus di Aceh baik negeri maupun swasta telah mengalami sindrom penyakit kronis. Hal tersebut terlihat pada aspek moralitas stakenholder kampus. Mulai dario dosen yang tidak lagi mengajar sampai sikap amoral mahasiswa di beberapa tempat yang melakukan pemerkosaan atau mesum dalam istilah syariatnya serta issu praktis politik praktis dalam kampus itu sendiri. Kenapa dikatakan demikian, amatilah bahwa penghuni kampus kita saat ini, ibarat panyeuet cilet, segala sesuatu persoalan di luar tampak jelas tapi didalam kampus sendiri jauh dari pengamatan. Mungkin “kata petuah” Aceh itu sangat relevan dibicarakan saat ini.

B. Sejarah Gerakan Kampus


Kampus-kampus kita di Aceh pada umumnya ikut memprakarsai gerakan-gerakan sosial. Kepeloporan orang-orang kampus dalam gerakan sosial sulit dilepaskan dari kegiatan tradisional mereka yang paling utama yaitu, melaksanakan pendidikan dan pengajaran. Proses pendidikan dan pengajaran yang di kembangkan oleh mahasiswa membuat kalangan kampus bukan saja menjadi lebih cerdas tetapi juga peka terhadap kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakat. Tetapi ironisnya, gagasan hanya tinggal gagasan, kehidupan dalam kampus itu sendiri tidak mencerminkan apa yang terkandung dalam tuntutan dari gerakan sosial yang diprakarsai orang-orang kampus tersebut. Padahal kampus mempunyai hak otonomi dalam mengembangkan disiplin ilmu, baik politik, ekonomi, sosial budaya dan ilmu-ilmu lainnya. Dalam disiplin ke-kampus-an Tri Darma Perguruan Tinggi yang diakui dunia pendidikan meliputi Independen, pencari kebenaran dan Pengabdian terhadap masyarakat. Namun masyarakat kampus tetap terikat dalam satu sistem civitas akademika yang tersruktur dan kekuasaannya terpusat pada satu tangan. Di tingkat universitas atau institute, kekuasaan di pegang rektor dan di tingkat fakultas kekuasaan di pegang dekan. Rektor dan dekan merupakan “raja” kecil yang mengatur dan menentukan keputusan akhir dari segala hal yang terjadi di lingkungan kampus.

C. Agenda Reformasi

Berdasarkan berbagai pertimbangan, reformasi kampus di Aceh sudah saatnya di mulai pasca MOU RI-GAM. Orientasi gerakan reformasi kampus harus di tunjukkan kedalam kampus itu sendiri, instrospeksi dan keadilan agar jangan di bilang orang, “Semut diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Persoalannya dari mana reformasi kampus harus di mulai? Dan untuk apa reformasi kampus di lakukan dan bagaimana caranya ? inilah yang menjadi tanggung jawab kita semua di Aceh bukan hanya insan dalam kampus.

Cak Nur pernah berkata “Indonesia mempunyai etika kerja yang sangat jelek dan tingkat korupsi yang memprihatinkan”. Ini akibat antara lain banyak ketimpangan yang terjadi akibat dari sistem kampus yang mandul. Dan tiap tahunnya kampus selalu mengorbitkan mahasiswa di bawah rata-rata ke-ilmiah-an. Yang menyedihkan lagi, berdasarkan laporan UNDP tentang Human Developmen Index (HDI) dari 174 Negara pada tahun 1998, Indonesia mendapatkan rangking ke-105 dan ke-109 pada tahun 1999. Maka dengan nada miring ada ungkapan “Indonesia sebagai wilayah yang paling besar, ternyata memiliki jumlah terbesar menyimpan orang-orang putus sekolah alias kaum pengangguran di tiap daerah lewat pembukaan fakultas-fakultas yang tidak dibutuhkan publik”.

D. Kemunafikan Kampus

Banyak “penghuni” kampus mengajukan pemikiran, tuntutan dan jalan keluar dari persoalan untuk melaksakan perubahan kepada pemerintahan, baik kepada DPRD maupun daerah (PNS dan Gubernur), guna mewujudkan kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Misalnya tuntutan reformasi yang didalangi orang-orang kampus (tahun 2000-2002) lima tahun silam adalah salah satu gebrakan yang sangat gemilang di tingkat lokal yang tidak mungkin di lupakan sejarah Indonesia dan penghuni Kampus Aceh sendiri. Utamanya mahasiswa berhasil membentuk pembubaran DOM, pembentukan SIRA, penegakan HAM dll. Ketika itu mahasiswa Aceh dalam satu kata dan satu suara menentang berbagai bentuk kezaliman yang terjadi di serambi mekkah.

Penguatan penggerakan mahasiswa yang menuntut semua itu, tak terlepas dari dukungan yang di berikan dosen dan guru besar tempat mereka belajar mereka masing-masing yang tanpak ’peduli’ pada kepentingan orang-orang banyak. Dan jika di luar area kampus, dosen dan guru besar yang memberi dukungan terhadap gerakan mahasiswa, dan nama mereka menjadi harum bukan main. Mareka di hargai seperti Resi, tokoh wayang yang digambarkan tidak memiliki kepentingan keduniaan. Kecendikian mereka dianggap seakan-akan diabadikan hanya untuk membela kepentingan orang-orang yang tertindas, miskin dan tak berdaya luar dalam. Intinya mareka berjuang untuk kesejahteraan yang jumlahnya lebih banyak. Namun lukisan seperti itu hanyalah fatamorgana. Suatu banyangan yang tampak indah tetapi tidak seindah yang dibayangkan. Sebab sebagaimana kebanyakan orang lainnya, mareka dosen dan guru besar sama sekali belum mampu mengendalikan nafsu duniawinya secara wajar. Karena rupanya mereka juga mencari popularitas untuk bersaing menduduki kursi Gubernur atau Bupati. Bayangkan apabila mareka (insan kampus) berkuasa mendapatkan fasilitas yang diinginkan, sifat Resi yang digambarkan tadi semata-mata merupakan mitos yang tidak sesuai dengan kenyataan. Mareka juga buta baik mata maupun hati, menindas yang lemah dan bersukacita di tengah-tengah penderitaan pengawainya dan rakyatnya.

E. Harapan Kita

Lalu apa dan bagaimana dengan kampus Aceh kita saat ini? Untuk melihat berbagai gerakan mahasiswa diluar kampus, mahasiswa Aceh sangat peka terhadap penderitaan rakyatnya. Tapi, kebobrokan intern kampus dari berbagai macam kezhaliman serta memarginalkan nilai-nilai religius tidak terhiraukan. Dosen IKIP Malang, Muhajir Efendi pernah mengemukakan untuk mewujudkan sebuah kampus yang bercitrakan agama setidaknya dapat ditawarkan pendekatan dalam bentuk ektra kurikuler, dan non formal. Melalui pendekatan itu di harapakan akan terciptanya situasi kampus yang kondusif. Pada pendekatan pertama, kegiatan pengajaran tidak saja sebangai trasfer ilmu (Trasfer of knowledge) dari dosen kepada mahasiswa sesuai paket kurikulum dan silabus. Sementara sikap mental yang merupakan cerminan hati nurani terabaikan, sehingga output suatu universitas dan sekolah memiliki kemampuan penalaran yang tinggi akan tetapi hati nurani anak didik menjadi kosong karena hanya sebatas nilai yang ia harapkan. Kemampuan penalaran (the power of reasanoring) adalah suatu keharusan dalam dunia pendidikan.

Semua kita mengetahui bahwa Aceh di bangun di atas sendi-sendi nilai keislaman yang sangat kental. Rasanya penghuni kampus kita sekarang menjadi kelompok pertama yang menjauh dari nilai Syariat Islam. Tidak bisa di pungkiri, bahwa kampus-kampus di Aceh sudah sangat jauh melangkah kedepan untuk tidak merealisasikan amanah Syariat Islam, bisakah kita membuat gerakan anti maksiat di dalam kampus? Sangatlah berat bagi mahasiswa kita untuk menjawabnya termasuk kita. Lantas bagaimana merubahnya. Tentu dengan komitmen bersama dan kekompokan semua elemen kampus itu sendiri. Kekuatan dari kampus perlu di bangun kembali.

Karena keberadaan kampus adalah sebuah kebutuhan dalam masyarakat. Mustahil apabila Aceh akan bangkit tanpa kesadaran dan semangat juang mahasiswa. Saya teringat pesan ayahanda Alm Prof. Safwan Idris (mantan rektor IAIN Ar-Raniry) dalam berbagai kesempatan, beliau menawarkan tiga konsep untuk memajukan pendidikan Aceh. Safwan Idris menawarkan tiga landasan dalam membangun peradaban di kampus. Pertama; moralitas, apabila moral mahasiswa dalam Kampus atau luar kampus sudah degradasi, maka dunia pendidiakn tidak akan berkembang. Kedua; Intelektualitas, seandainya dalam suatu bangsa IQ manusianya di atas rata-rata kemungkinan besar bangsa itu akan maju, tapi seandainya mahasiswa itu tidak mempuyai moralitas juga akan menghambat majunya dunia pendidikan. Ketiga; silaturrahmi semua lapisan masyarakat tidak saling benci-membenci sehingga silaturrahmi tetap jalan dan perdamain pun tetap bersemi di Serambi Mekkah ini. Karena umat Islam itu bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, apabila satu sudut roboh, maka robohlah sudut yang lainnya. Intinya tiga point pijakan menurut Safwan Idris ini sangat penting di terapkan di Aceh.

Untuk itu, kegundahan seorang dosen seperti Muhibuddin Hanafiah dan kawan-kawan seperti yang pernah dipublikasikan di salah satu harian terbitan Banda Aceh, mulai dari dosen memilih jadi politikus, dosen yang memilih jadi karyawan lembaga asing, mahasiswa yang telah terkotak-kotak, issu politik praktis yang telah memasuki kampus dan sederet persoalan lainnya mengakibatkan kondisi belajar mengajar di kampus tidak lagi kondusif dan ini adalah salah satu tanda bahwa para stakenholder kita harus bertindak. Karena seperti kata Francis Bacon bahwa Pengetahuan adalah kekuasaan, dan kekuasaan harus dilandasi pada kebijakan yang arif bukan pula menindas. Wassalam

(Tulisan ini sudah pernah dimuat di Serambi Indonesia Sabtu 2 September 2006)

Penulis adalah Alumnus Tarbiyah Kependidikan Islam IAIN Ar-Raniry (2000-2004). Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan PPs Unsyiah (2006-now). Saat ini aktif sebagai staff INGO Save The Children Sector Separated Children. Sebelumnya lama bergelut di beberapa media terbitan Aceh, Seperti Tabloid Beudoh, Tabloid Suluh Indonesia, Tabloid Gema Baiturrahman dan Koran harian Rakyat Aceh.

Baca beberapa tulisan yang pernah dipublikasi oleh harian Serambi Indonesia: Jujurkah Dunia Pendidikan Kita ?, Oleh D Keumala Wati (19/7). Menatap Masa Depan Pendidikan Aceh, Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad (15/7). Kontroversi UN dengan MBS dan KBK, Oleh Azhar S.Pd (6/7). Ketika Guru Berburu Srata, Oleh Tabrani Yunis (18/7). Melirik Cama dan Camai di IAIN Ar-Raniry Oleh Muhibuddin Hanafiah (27/7). Guru yang Bagaimana Dibutuhkan Aceh, Oleh Anas M Adam (10/8).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: