Pemuda Islam Dan Bencana

“Mungkin alam sudah mulai bosan dengan tingkah laku kita, mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita”. Jika tidak salah menulis, seperti itulah penggalan syair Ebiet G. Ade yang kerap kita dengarkan di televisi. Setiap ada musibah dan bencana yang menimpa bangsa ini, lagu tersebut menjadi soundtrack yang bisa menggetarkan hati kita.

“Saya tidak ingin lagu yang saya lantunkan ini kembali terdengar di televisi-televisi”, begitulah tutur Ebid. Namun kenyataannya, lagu tersebut masih sangat “populer” di telinga masyarakat bangsa ini. Karena memang, lagu tersebut sangat cocok melukiskan kondisi bangsa saat ini.

Bangsa ini seakan-akan enggan lepas, bahkan tidak mau berpisah dengan segala bencana dan musibah. Mulai dari stunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir, tenggelamnya KMP senopati, misteri hilangnya pesawat Adam Air sampai melonjaknya harga beras. Semua catatan kelabu tersebut bertubi-tubi menghantam bangsa yang semakin renta ini. Di tengah kepiluan bangsa, semua komponen bangsa ini mulai terjangkit penyakit tunjuk hidung, untuk mencari kambing hitam. Saya menunjuk kamu, rakyat jelata menyalahkan pemerintah dan sebaliknya pemerintah menghakimi rakyatnya sendiri, dengan alasan inilah, itulah dan sebagainya. Lebih parah lagi, Si pembuat alam ini dituding ikut campur. Bahkan dianggap sebagai pelopor munculnya berbagai bencana dan musibah yang melanda tanah air.

Semua bencana dan musibah yang menghujani bangsa ini, dianggap sebagian orang sebagai sebuah ‘kehendak’ dari Yang Maha Kuasa. Allah telah menulis dengan detail serta lengkap, kejadian yang menimpa dan yang akan mendatangi kita. Memang sebuah argumen yang bisa kita amini, karena ada ayat yang artinya “Tiada suatu bencanapun yangmenimpa bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (Al Hadiid:22).

Di lain pihak, ada kelompok yang kurang sepakat jika melibatkan Allah terhadap semua musibah dan bencana yang melanda bangsa ini. Mereka beralasan, pertama, yang sebenarnya tercatat dalam Lauhul Mahfuz hanyalah sebuah ‘sistem’ atau ‘prosedur’ standar, bukan skenario yang detil. Lauhul Mahfuzh hanya melukaiskan kalau seseorang berbuat kebaikan, akan mendapatkan reward. Sementara jika berbuat banyak kemungkaran akan diperingatkan dengan musibah. Kalau perbuatanya ini, imbalannya ini. Jika perbuatannya itu balasannya itu.

Di lingkungan berbangsa dan bernegara, jika masyarakatnya baik dan rukun, tentu akan banyak rahmat yang tercurah. Tapi sebaliknya, jika masyarakatnya sudah mulai ngawur dan hidup seenak perutnya sendiri, akan banyak kiriman bencana. Kalau kebaikan berupa ini, rahmatnya berbentuk ini. Kalau kesalahanya berbentuk itu, maka bencananya berbentuk itu. Hal ini dinyatakan jelas dalam firman Allah, yang artinya “Dan apa saja musibah yang menimpa kamumaka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”, (Asy Syuura: 30).

Alasan kedua, tidak mungkin Tuhan merencanakan setiap aktivitas kehidupan makhluknya (manusia) secara detil. Misal, saya tanggal sekian akan menikah dengan si A, kemudian tanggal sekian saya akan ketiban rezeki, tanggal sekian saya jatuh sakit dan tanggal sekian saya dikaruniai anak. Tuhan kok kurang kerjaan amat.

Kalau memang semuanya sudah diskenariokan (termasuk bencana dan musibah), buat apa kitab suci diturunkan? Orang-orang yang penuh dosa seperti kita ini, selalu diberi pilihan. Tinggal kita, mau berbuat baik atau berbuat dosa. Masing-masing dengan konsekuensinya tersendiri. Hal ini jelas dinyatakan dalam ayat, yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”, (Ar-Ra’d:11).

Sederhananya, kalau kita berusaha, kita akan mendapatkan reward. Tapi sebaliknya, jika kita melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, kita akan mendapatkan punishment. Seberapa cepat reward dan punishment itu diberikan kepada kita, tergantung pada bagaimana effort (usaha) kita.

Republik Bencana

Musim hujan membawa marabahaya, musim kemarau menimbulkan malapetaka. Itulah kondisi alam Bangsa ini. Alam sudah mulai bosan bersahabat dengan kita, alam sudah mulai enggan hidup bersama manusia.

Sayangnya, Bangsa ini tidak bisa membuka mata hati terhadap peringatan-peringatan yang datang dari langit. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, kekeringan, kebakaran hutan dan berbagai musibah yang menghujani bangsa ini bertubi-tubi, dianggap sebagai rutinitas biasa yang tidak bisa lepas dari keseharian tanah air ini. Nyawa manusia menjadi murah, nyawa bisa melayang hanya karena akibat dari tangan-tangan jahil putra bangsa.

Data BAKORNAS menunjukkan dalam rentang waktu 6 tahun (1998-2003), 2022 orang tewas karena ganansnya alam pertiwi Indonesia ini. Tahun selanjutnya (2004-2007), harian Jawa Pos (5/3/07) menunjukkan data bencana alam sebagai berikut: Gempa bumi, Aceh (26/12/04) tewas 168.000, SUMUT (28/3/05) tewas 900, Jogjakarta (27/3/06) tewas 6.000, Jogjakarta (17/7/06) tewas 650, SUMBAR (6/3/07) tewas 73. Tanah longsor, Manggarai (1-3/3/07) tewas 32. Rekapitulasi korban tewas mencapai 175.655.

Sungguh angka yang luar biasa, bisa jadi mengalahkan korban tewas akibat perang di Timur Tengah. Namun tetap saja, hati manusia Indonesia tetap saja masih membatu.

Akibat dari banyaknya korban yang tewas, semua elemen yang hidup di negara yang katanya gemah ripah loh jinawe menjadi kalap. Pemerintah menyalahkan masyarakat umum dan sebaliknya, pemerintah menjadi bulan-bulanan kegelisahan rakyatnya sendiri.

Rakyat jelata menilai pemerintah kurang bahkan tidak menghargai nyawa rakyat. Pun sebaliknya, pemerintah menilai pihak swasta telah mengeksploitasi besar-besaran alam Indonesia.

Dua kubu yang seharusnya saling menjaga, saling menghormati dan saling bahu-membahu membangun bangsa, malahan saling melempar tanggung jawab, saling mencari kambing hitam, untuk dijadikan sebagai terdakwa beberapa kasus bencana yang melanda negeri ini.

Suasana semakin keruh ketika ada kelompok-kelompok gelap yang tidak suka melihat bangsa ini akur dan tentram ikut campur tangan. Dengan segala cara, kelompok gelap ini mengadu domba pemerintah dengan rakyat. Rakyat dipanas-panasi bahwa pemerintah itu kerjanya kurang maksimal, pemerintah tidak bisa memberikan peringatan diniakan munculnya bencana.

Sementara itu, pemerintah yang semakin gerah duduk di singgasana pemerintahan tidak bisa menahan kekhawatirannya. Khawatir dirinya didepak dari kursi yang sangat nyaman untuk diduduki. Akhirnya, pemerintah membuat regulasi-regulasi serta aturan-aturan yang dapat meminimalisir bahkan mencegah bencana. Namun tetap saja, peraturan-peraturan dan hukum-hukum berlaku hanya seumur jagung. Dengan waktu singkat diputuskan dan juga hanya dengan masa yang singkat pula diberlakukannya.

Penerapan kedisiplinan tidak bertahan lama, setelah itu kembali ke ritual awal, longgar dalam menerapkan aturan sampai muncul musibah kembali. Hampir semua situasi darurat di Indonesia usianya pendek. Pendek bukan solusinya yang cekatan, melainkan cepat dianggap normal akibat pengabaian.

Tanggap Ing Sasmita

Bangsa ini memang multi bencana. Setelah bencana satu berlalu, dengan sekejap ada bencana lain yang menghantam bangsa ini. Akibatnya muncul ocehan irasional. Bencana dan malapetaka yang terjadi merupakan pertanda bangsa ini sekarang hidup dalam pemerintahan yang tidak disukai alam, tidak direstui oleh alam. Buktinya alam marah, bahkan murka, dengan memeberi bangsa ini stunami, gempa dan tanah longsor.

Memang bencana yang melanda bangsa inibisa ditafsirkan sebagai peringatan dari langit, peringatan yang harus kita tanggapi dengan serius. Kita diharuskan cekatan mencari sebab kenapa bencana dan musibah ogah meninggalkan bangsa ini.

Bencana harus dihadapi dengan kewaspadaan baru, sehingga bangsa ini keluar dari lilitan tragedi dengan penuh kearifan. Sudah saatnya pemerintah berkomitmen penuh memperhatikan rakyatnya.

Dan, sudah waktunya pula bangsa ini memiliki kesadaran. Hanya kesadaran yang membuat kita terbebaskan dari bencana yang lebih parah, sadar takan kelestarian lingkungan dan sadar kita hidup di negeri yang rawan bencana.

Bencana masih akan datang, entah kapan. Sikap reaktif setelah bencana bukan langkah bijak, yang diperlukan adalah langkah proaktif sehingga sebelum bencana terjadi telah banyak hal yang diantisipasi sebelumnya.

Jika bencana masih melanda dan terus mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Pengangguran baru, kemiskinan baru, frustasi sosial baru, menjadi bom waktu yang kemudian tinggal menunggu watu saja meletus menjadi ledakan sosial.

Mudah-mudahan banyaknya peringatan yang begitu berat dan tidak menyenangkan ini bisa segera berakhir dan digantikan dengan limpahan rahmat yang maha luas. Sebuah bencana jelas terdapat sebuah hikmah tersembunyi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: