Artikel

ALQURAN DAN PEMAHAMAN KEMUTLAKAN

Keyakinan yang mendarah daging dalam hati sebagian umat islam bahwa alquran adalah produk Tuhan yang tak bisa dibantah, dijamah dan dikritik dari berbagai segi adalah sangat memprihatinkan. Terlebih lagi pemahaman yang mengatakan bahwa, pemegang otoritas tertinggi pemaknaan kitab suci berada dalam genggaman satu orang dan bersifat sentralistik, (seperti dikatakan sdr. Jakvar Shadiq dan salah satu aktivis ormas semi militer di Malang sdr. Samik Jengguk dalam seminar sehari bertempat di gedung Metro Cell Jember).

Baik sengaja dikondisikan maupun lewat doktrin-doktrin para kaki tangan penguasa, sikap seperti ini sudah ada sejak beberapa abad lampau dan diteruskan hingga kini oleh orang-orang pengkhayal pada kejayaan zaman nabi dulu. Penguasa yang dimaksud dalam hal ini bisa berupa individu yang duduk dipemerintahan dan punya tujuan tujuan politik atau para ulama yang mengklaim dirinya orang paling dekat dengan Tuhan.

Pensakralan terhadap Alquran yang keberadaannya diselimuti oleh ruang dan waktu justru akan membuat yang bersangkutan menjadi permata yang sulit untuk dipegang apalagi dikritik dipentas ilmiah. Akibatnya bisa ditebak, pengkafiran dan pensesatan atau minimal tidak mau bicara, dengan mudah dituduhkan terhadap individu yang berani mengkritisi Alquran. Jangankan menelaah secara kritis isi dan kandungan alquran, kritik terhadap sejarah (history) keberadaannya saja sudah menjadi barang haram dan bisa dihalalkan darahnya.

Padahal, saat ini gagasan kritik terhadap historysitas Alquran semakin menarik untuk didiskusikan. Setidaknya hal itu tercermin dengan menjamurnya tulisan baik makalah maupun buku yang membahas tema tersebut. Tulisan ini mencoba ikut meramaikan gagasan kritik Alquran, terutama berkaitan dengan aspek historisitasnya. Pertama kali yang perlu kita pahami adalah bahwasanya umat Islam itu meyakini Alquran (Alquran yang kita terima sekarang adalah mushaf usmani) sebagai firman Tuhan, dan karenanya sakral, absolut, mutlak, dan umat manusia harus meyakininya. Kontan saja umat Islam tidak berani mengkritiknya. Pelarangan kritik Alquran sebetulnya hanyalah siasat politik bangsa Arab-Quraisy (termasuk kaum intelektualnya seperti Imam Syafii) sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat dan mempertahankan hegemoninya atas nalar Islam, khususnya atas nalar bangsa Arab yang beretnis selain Quraisy. Padahal, imbas dari sakralisasi Alquran ini mengakibatkan Alquran yang hakikatnya profan menjadi sakral. Alquran itu profan karena ia terkait dengan ruang dan waktu. Pun ia juga terbatas historisnya karena ia sudah berhenti dalam membaca realitas sejak kewafatan Muhamad SAW. Di sinilah perlunya kritik Alquran yang ditujukan untuk membaca Alquran apa adanya, sebagai sebuah teks historis yang memiliki ruang dan waktu, bukan sesuatu yang absolut dan tran-historis (Nashr Hamid Abu-Zayd; 1992).

Kritik Historis Alquran Agenda kritik Alquran yang paling utama adalah melakukan analisa kritis atas teks Alquran dan membongkar nalar Arabisme dan kepentingan politik di balik kehadirannya. Akhir yang dituju dari gagasan ini adalah ingin meruntuhkan hegemoni Alquran yang produksi bangsa Quraisy itu. Karenanya, ketika ada orang yang mensakralkan Alquran berarti ia telah terperangkap siasat Arab-Quraisy tersebut. Karena itu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk melarang gagasan kritik Alquran. Dalam kritik Alquran, pertama kali yang harus dikritik adalah studi Alquran yang hanya terkubang pada wilayah teologis-dogmatis, sehingga membuat umat terlelap dalam absolutisme. Padahal, Alquran adalah sesuatu yang menyejarah, yang berpijak pada realitas lokal Arab 14 abad silam, karenanya ia itu relatif, tidak absolut. Dari sinilah, kita semestinya menggeser studi Alquran dari teologis-dogmatis menuju rasionalisme-kritis dan dekonstruktif.

Studi ini terasa semakin menggairahkan setelah terbantu teori teks dan teori kritik wacana dari berbagai aliran filsafat kontemporer seperti strukturalisme, post-strukturalisme, semiotika, linguistik, antroposentrisme, hermeneutika, dekonstruksi, arkeologi, dan genealogi. Walau kita tidak ingin menganggap teori-teori tersebut sebagai satu-satunya teori paling valid untuk studi Alquran. Namun, setidaknya, teori-teori tersebut bisa membantu dan melengkapi teori-teori klasik seperti teori asbab an nuzul yang sudah kita kenal sebelumnya. Satu hal cukup penting dalam studi Alquran adalah kritik nalar dan kritik teks. Kritik nalar bertujuan mengkritik nalar umat yang terhegemoni teks hingga tidak bisa menerima kebenaran di luar teks yang dibacanya, karena setiap teks punya strategi untuk mempertahankan kebenaran yang di kandungnya. Sementara kritik teks bertujuan untuk membongkar ideologi yang menyertai kehadiran sebuah teks, mengingat kehadiran sebuah teks sangat terkait dengan relasi kuasa yang melingkupinya. Mohamad Arkoun, pemikir Islam dari Perancis, pernah mengajak umat Islam untuk melakukan klarifikasi historis (al-idaah at-tarikhiyyah) dengan memikir ulang kesejarahan Islam selama empat belas abad, termasuk yang diklarifikasi itu adalah kodifikasi Alquran di masa Khalifah Usman ibn Affan, yang kemudian dilanjutkan pada transformasi nalar Islam modern. Di sinilah Islamologi Terapan Saya berpijak, kata Arkoun (Mohamad Arkoun: 2002). Komentar Arkoun tersebut kontan saja menyadarkan umat beragama yang mulanya begitu mensakralkan sejarah Alquran dan tak ada keberanian untuk mengklarifikasinya. Akibatnya nalar umat tumpul dan tertimbun sejarah. Karena itu, kritik historisitas Alquran sangat penting, terutama kritik terhadap pembukuan Alquran oleh Usman ibn Affan. Ada kepentingan apa di balik pembukuan (unifikasi dan stabilisasi) Alquran dengan dialek Quraisy oleh Usman tersebut? Dan apa yang akan kita tuju dari kritik historisitas ini?

Keluar dari Arabisme-Quraisyme Khalil Abdul Karim punya jawaban khusus atas pertanyaan tadi. Dalam bukunya yang diterjemahkan LkiS; Hegemoni Quraisy, ia mengatakan bahwa dalam pembukuan Alquran itu terdapat kepentingan politik bangsa Quraisy untuk menancapkan kepentingan politik dan kuasanya atas bangsa lain (suku Arab lain dan umumnya umat Islam) supaya selalu tunduk di bawah kekuasaan bangsa Quraisy. Kepentingan politik ini perlu dibongkar karena dampak dari pembukuan ini sangat besar pada ortodoksi Islam mengingat pascapembukuan tersebut nalar umat Islam menjadi tumpul karena diharuskan tunduk pada mushaf Sang Imam (Mushaf Usmani), yang oleh Usman, selaku Khalifah, dilegalkan sebagai satu-satunya mushaf terabsah. Padahal pembukuan ini mendapat tantangan dari sebagian sahabat, terutama para sahabat dari selain suku Quraisy seperti Abdullah ibn Masud, seorang sahabat keturunan Bani Hudzail. Kuasa rezim Quraisy untuk menghegemoni nalar Islam, dalam ranah politik, agama dan budaya, memang jejaring kuasanya sangat kuat sebagaimana yang kita rasakan sekarang (Khalil Abdul Karim: 2002). Asumsi itu benar jika kita kaitkan dengan banyaknya umat Islam yang mengidentikkan apa saja yang asal berbau Arabisme sebagai Islam yang benar dan otentik. Sehingga mengesampingkan kesahihan agama lokal, termasuk proses sinkretisme. Saking kuatnya hegemoni nalar Arab-Quraisy atas nalar Islam telah membuat umat Islam tidak mampu membedakan antara mana nilai-nilai agama (dieny) dan mana yang budaya/kultur atau sejarah (tsaqafi/tarikhi). Artinya, melalui pembukuan Alquran tersebut, Usman bukan hanya membuat Alquran menjadi wilayah yang tak bisa disentuh, tapi juga menimbulkan ortodoksi Islam dengan meneguhkan ketunggalan dimensi keagamaan. Sehingga, sikap yang dijunjung adalah penyamaan bahwa Islam adalah Alquran, Alquran adalah wahyu, dan wahyu adalah Tuhan. Ortodoksi ini kemudian mengesampingkan bahkan menolak kerja-kerja budaya semisal upaya penafsiran terhadap teks untuk kemudian menjadikannya sebagai agama dalam tataran manusia (Miftahus Surur: 2003). Stabilitas nalar Islam di bawah payung Alquran dialek Quraisy tersebut semakin menampakkan kekuatannya ketika Imam Syafii (150-204 H/abad II H) menjadikan Alquran sebagai otoritas mutlak. Imam Syafii, seorang ulama keturunan Quraisy, dalam hal ini juga menyusun disiplin ilmu baru untuk memperkuat sangga ortodoksi yakni Ilmu Ushul Fiqh. Kalau kita cermati, adanya teori Ushul Fiqh Syafii yang menyandarkan konstruk nalar Islam pada al-Kitab, Sunnah, Ijma dan Qiyas dengan menyusun kegunaannya secara hirarkis menunjukkan bahwa ilmu Ushul Fiqh ala Syafii adalah upaya memperkuat sangga otoritas nalar Islam Arab-Quraisy (Nasr Hamid Abu-Zayd: 1992). Upaya ortodoksi Syafii ini diteruskan Ibnu Hanbal, murid setianya, dan Ibnu Taimiyyah (abad 14 M). Kita memang tidak menutup mata bahwa hingga saat ini, nalar Islam konstruk Syafii tersebut masih kuat mencengkeram nalar Islam. Patut disayangkan memang, generasi pasca-Syafii tidak kreatif dan hanya mem-beo pemikiran Syafii. Teori Ushul Fiqh ala Syafii yang ke-Arab-an inilah yang harus kita amandemen. Itulah tanggung jawab kita sebagai generasi masa kini untuk mampu merekonstruksi teori Ushul Fiqh dengan lebih mengedepankan aspek demokrasi, rasionalitas, dan pro tradisi lokal. Proyek ini memang pekerjaan berat. Namun, bukan berarti mustahil. Karena Alquran adalah teks. Dan teks tidak bisa lepas dari konteks. Maka, teks Alquran juga tidak bisa lepas dari konteks Arab 14 abad silam, tempat Alquran hadir. Bahkan konteks pada dasarnya telah mendahului teks. Teks Alquran adalah hasil proses heterodoksi, pensikapan, dan jawaban Muhammad atas konteks Arab saat itu. Sehingga, Alquran itu didisain, dikonstruk, diinvensi oleh konteks bangsa Arab 14 abad silam. Misalnya, doktrin tentang jihad, sangat terkait dengan kondisi bangsa Arab waktu itu yang primitif dan suka perang. Tradisi berjilbab juga tak lepas dari kondisi daerah Arab yang sangat panas, tidak hanya perempuan, kaum laki-laki juga memakai jubah, dan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan termasuk proses heterodoksi adalah, banyaknya unsur-unsur Yudeo-Kristiani dalam Alquran. Kita pun bertanya-tanya, kenapa Alquran hanya menyebut agama Yahudi dan Nashrani, dan tidak menyinggung agama lain? Hal itu ternyata juga tak lepas dari keterbatasan Alquran yang berdialog dengan realitas yang ada. Dan karena realitas saat itu, hanya dua agama tersebut yang dikenal dan menyebar luas di jazirah Arab. Maka wajar jika hanya dua agama tersebut yang disinggung Alquran. Coba, kalau agama Budha, Hindu, Kong Hu Cu dan Zaraasther sudah berkembang subur di bumi Arab. Saya yakin, Alquran juga akan menyinggung agama-agama tersebut mengingat Alquran itu heterodoks. Karena Alquran sangat terbatas pada lokalitas, tentu tidak fair jika kemudian Alquran secara ombyokkan kita paksakan untuk realitas sekarang, tanpa kritik dan reserve. Apalagi lokalitas sekarang berbeda dengan lokalitas Arab. Dan bukankah bahasa juga mengalami pergeseran makna? Entah itu penyempitan atau perluasan makna!. Hal itu belum lagi jika dikaitkan dengan lokalitas lokal. Lokalitas Indonesia atau Jawa misalnya yang sangat berbeda dengan lokalitas Arab. Karenanya, ia agaknya susah menerima tradisi yang serba Arab. Soalnya, Indonesia atau Jawa, juga punya tradisi, yang perlu ditransformasikan. Di sinilah, harus ada kritik terhadap upaya geneunisasi Islam. Karena apa yang dianggap genuine Islam dengan Arab sebagai otoritas, pada dasarnya mengandung kelemahan epistemologi dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kritik Otentisisme Islam & Transformasi Agama Pribumi Paparan di atas tadi pada dasarnya akan kembali kepada tafsir. Nah, dalam kerangka tafsir inilah muncul problem ketika ada sebagian umat Islam yang menganggap bahwa hanya pembacaan Alquran yang literal adalah sebagai tafsir yang terbenar. Orang yang mengusung ideologi otentisisme ini berpandangan ekstrim dan mengklaim dirinya sebagai muslim sejati dengan menganggap apa saja yang di luar kelompok mereka sebagai orang yang bukan Islam. Itulah tantangan kita sekarang. Karena itu, tafsir yang harus kita munculkan adalah tafsir yang kontekstual di mana realitas lokal dan problem kontemporer harus dijadikan pijakan tafsir, bukan tafsir yang literal yang terkesan kaku dan arabis. Teori hermeneutika membri ruang yang begitu besar kepada realitas, termasuk realitas lokal dan pribumi. Hal ini diharapkan, pemikiran keislaman yang akan kita praksiskan betul-betul kontekstual dan membumi dengan meminimalisir atau bahkan menghilangkan resistensi dengan khazanah lokal. Ini perlu diperhatikan mengingat saat ini begitu nyaring disuarakan purifikasi Islam dengan menjadikan Arab sebagai prototype Islam terbenar dan terotentik, dengan menjadikan fakta pengalaman sejarah kenabian Muhammad dan tradisi Arab, baik yang tertera dalam teks Alquran maupun turats. Sementara di luar fakta sejarah Alquran tersebut, realitas kekinian yang serba kompleks dan kacau balau ini membutuhkan karakter keberagamaan yang berorientasi pembebasan. Isu-isu kontemporer seperti isu kebebasan sipil (HAM), gender, kebebasan beragama, demokrasi, civil society, kemiskinan, hegemoni dan dominasi Barat, terorisme, perang dunia, dan sebagainya, sangat membutuhkan pensikapan secepat mungkin dari umat beragama. Karena isu-isu tersebut dihadapi semua umat beragama, maka dibutuhkan nalar keagamaan yang lintas agama pula, cara pandang yang tidak terkotak-kotak dalam perspektif agama tertentu. Maka, bagi umat beragama, sangat dibutuhkan sikap keberagamaan yang inklusif dan transformatif. Artinya, sangat tidak fair jika kita tetap bersikukuh pada pemahaman beragama yang ekslusif dan literalis, apalagi berkutat pada nalar Arabis. Pilihan untuk memilih tradisi Arab atau yang lainnya pada dasarnya tidak ada masalah bagi saya. Cuma, ketika pilihan tradisi itu kemudian menjadi sebuah keharusan bagi semua umat, maka yang terjadi justru adalah dominasi dan hegemoni budaya, atau akan terjadi hegemoni nalar Arab atas yang bukan Arab. Padahal, hegemoni adalah bagian dari penindasan, yang karenanya harus dilawan. Yang lebih picik lagi, jika isu-isu tersebut harus kita jawab dengan kembali ke masa lalu, masa ketika teks Alquran tersebut ditasbihkan. Ironis! Karena itu, kita mesti membaca teks-teks keagamaan -seperti Alquran- secara kritis. Supaya bisa menghasilkan produk tafsir yang dialogis dengan realitas. Di sini, kita harus mengedepankan prinsip inklusivisme, pluralisme, dan transformisme. Pemikiran ini memungkinkan kita untuk mengikuti kaidah-kaidah positif Alquran seperti tauhid, keadilan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan beramal sholeh; dan tidak mengikuti kaidah-kaidah negatif Alquran seperti doktrin tentang jihad pakai pedang untuk membunuh orang yang berbeda agama, hukum potong tangan, dan pembagian harta waris yang bias gender. Sikap demikian itu bukanlah mereduksi Alquran, tapi justru akan membuktikan sejauhmana Alquran mampu berdialog dengan realitas kontemporer. Bukankah inti beragama adalah menciptakan sistem sosial yang demokratis dan santun? Membebaskan umat manusia dari segala bentuk dominasi dan penindasan, baik fisik maupun nalar? Sebenarnya, sikap kritis terhadap teks-teks keagamaan bukan hanya agenda umat Islam semata, melainkan menjadi agenda semua umat beragama. Sebab kehadiran agama pada dasarnya adalah tunututan realitas yang butuh pembebasan. Karenanya setiap agama pasti menggenggam nilai-nilai universal seperti keadilan, egalitarianisme, dan demokrasi. Dan untuk mengaktualisasikan semua itu memang tidak mudah. Karenanya, harus ada kesadaran penuh dari semua umat beragama. Ketika semua umat beragama sudah sadar dan sanggup melakukan pembacaan kritis atas teks-teks keagamaan, sehingga nalarnya tidak ekslusif, maka hal demikian itu akan mempermudah proses penciptaan sistem sosial yang demokratis dan santun. Umat beragama harus bersama-sama menjaga dunia ini dari bandit-bandit yang suka berbuat kedzaliman. Hal demikian ini pula yang akan membuktikan sejauhmana kehadiran Tuhan dalam teks-teks keagamaan, termasuk di antaranya adalah teks Alquran.

*)Penulis adalah

Orang Tambeng yang rindu akan kemarahan intelektual.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: